Makassar – Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan menjemput Ketua Umum DPP LDII Ir. KH. Chriswanto Santoso, M.Sc. di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Kamis (25/12/2025) malam.
Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan Asdar Mattiro, S.Sos., M.IKom. bersama jajaran pengurus harian turut hadir dalam penjemputan tersebut. Sebagai bentuk penghormatan kearifan lokal, Asdar Mattiro memakaikan songkok recca kepada Ketua Umum DPP LDII.
Kedatangan Ketua Umum DPP LDII ini menjadi bagian dari rangkaian agenda konsolidasi organisasi di Sulawesi Selatan sekaligus momentum penyampaian arah strategis LDII menjelang Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang direncanakan berlangsung pada April 2026. Konsolidasi organisasi LDII se-Sulawesi Selatan berlangsung selama 3 hari pada 26-28 Desember 2025 di Kabupaten Luwu.
Dalam sesi wawancara, Chriswanto Santoso menegaskan bahwa Munas X LDII bukan sekadar agenda rutin lima tahunan, melainkan momentum evaluasi menyeluruh terhadap perjalanan organisasi.
“Di dalam organisasi, evaluasi itu wajib. Namun kali ini kami ingin evaluasi yang lebih terbuka, tidak hanya dari internal pemegang mandat, tetapi juga dari pihak luar, khususnya media,” ujarnya.
Menurutnya, media memiliki sudut pandang yang lebih tajam dan objektif sehingga dapat memberikan masukan konstruktif bagi perbaikan organisasi ke depan. Oleh karena itu, pada Munas X LDII nanti, evaluasi kinerja DPP juga akan melibatkan pandangan dari media.
Chriswanto menjelaskan bahwa hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar penyusunan program kerja LDII agar semakin membumi (down to earth) dan realistis.
Ia memaparkan lima prinsip utama dalam penyusunan program kerja LDII ke depan. Pertama, program harus meningkatkan kualitas hidup warga LDII dan masyarakat umum. Kedua, harus selaras dan bersinergi dengan program pemerintah, khususnya Asta Cita Presiden RI. Ketiga, program harus realistis dan sesuai kemampuan organisasi. Keempat, membangun sinergi dengan berbagai kekuatan, baik ormas Islam maupun non-Islam. Kelima, seluruh program harus berorientasi pada kemanfaatan bagi masyarakat luas.
“Kita ini mengusung prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” tegasnya.
Isu lingkungan hidup menjadi salah satu fokus utama LDII dalam program kerja ke depan. Chriswanto menyebut bahwa dakwah ekologis telah lama menjadi bagian dari gerakan LDII, bahkan sebelum isu lingkungan menjadi perhatian luas.
Ia mencontohkan respon cepat LDII saat terjadi bencana alam di berbagai wilayah, termasuk di Sumatera. LDII langsung menginstruksikan penggalangan dana dan bantuan, tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi juga hingga tahap pascabencana.
“Bencana itu dampaknya jangka panjang. Bukan hanya soal makanan, tapi kehilangan rumah, pekerjaan, dan masa depan. Maka bantuan harus berkelanjutan,” jelasnya.
Ke depan, LDII akan merumuskan pola baku penanganan bencana mulai dari pra-bencana, saat bencana, hingga pascabencana sebagai bagian dari program prioritas organisasi.
Selain lingkungan, LDII juga menaruh perhatian besar pada ketahanan pangan nasional. Chriswanto menyoroti keberhasilan LDII dalam mengembangkan sorgum bersertifikat yang telah mendapat pengakuan Kementerian Pertanian dan disalurkan ke berbagai daerah di Indonesia.
“Selama ini banyak sektor pangan kita masih bergantung pada perusahaan asing. Sorgum ini menjadi salah satu solusi kemandirian pangan nasional,” ujarnya.
Program ketahanan pangan ini, lanjutnya, sejalan dengan Asta Cita kedua, yakni memperkuat ketahanan nasional, termasuk di bidang pangan.
Menutup keterangannya, Ketua Umum DPP LDII menegaskan bahwa program kerja LDII 2026 tetap mengacu pada delapan klaster pengabdian, yaitu kebangsaan, keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi syariah, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, energi baru terbarukan, serta teknologi digital.
Empat klaster pertama wajib dijalankan di seluruh daerah karena berfokus pada pembangunan sumber daya manusia. Sementara empat klaster lainnya disesuaikan dengan potensi masing-masing wilayah.
“Saya melihat Sulawesi Selatan memiliki potensi besar. Pengurus LDII Sulawesi Selatan memiliki SDM yang kuat, akademisinya banyak. Hampir semua klaster bisa dijalankan di sini,” pungkasnya.

Sukses terus untuk LDII Sulsel, berkarya untuk bangsa dan negara.