Makassar – Universitas Negeri Makassar (UNM) mengukuhkan salah satu akademisi unggulannya, Prof. Dr. Sukardi Weda, sebagai Guru Besar dalam bidang Bahasa dan Sastra Inggris dalam Sidang Terbuka Luar Biasa yang digelar di Ballroom Teater Menara Pinisi, Universitas Negeri Makassar, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (28/7/2025).
Sosok kelahiran Pare-Pare ini menjadi sorotan bukan hanya karena pencapaian akademiknya, tetapi juga karena konsistensinya dalam menekuni berbagai disiplin ilmu lintas bidang.
Dengan enam gelar magister (S2) dari tujuh cabang keilmuan yang berbeda, Sukardi Weda menjadi simbol nyata semangat belajar tanpa batas. Ia meraih gelar-gelar tersebut di bidang linguistik, manajemen pendidikan, sosiologi, manajemen strategis, dakwah dan komunikasi, hingga administrasi publik.
“Sejak kecil saya senang membaca apa saja. Dari pertanian, biografi, hingga teori-teori politik dan linguistik. Ilmu pengetahuan adalah ruang hidup saya,” ujarnya saat diwawancarai usai pengukuhan.
Pengukuhan ini sekaligus menandai kiprahnya selama lebih dari dua dekade sebagai dosen, peneliti, dan penulis. Ia telah menerbitkan lebih dari 100 karya ilmiah, termasuk 31 buku dan 88 artikel jurnal yang menjangkau isu-isu linguistik, pendidikan, manajemen, hingga dinamika sosial-budaya.
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Politik dan Rekayasa Bahasa”, Sukardi mengupas bagaimana bahasa dapat menjadi instrumen kekuasaan maupun pembebasan dalam konteks masyarakat multikultural. Ia mengaitkan fenomena kebahasaan dengan konstruksi sosial, media, dan agenda politik negara.
“Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia bisa menjadi alat kontrol atau alat perlawanan, tergantung siapa yang menggunakannya dan untuk apa,” tuturnya dalam orasi tersebut.
Rekam jejak pendidikannya juga menunjukkan kegigihan luar biasa. Setelah sempat beberapa kali gagal mendapatkan beasiswa, pada tahun 2003 ia lolos seleksi beasiswa bergengsi Ford Foundation International Fellowship Program, yang mengantarkannya menempuh program magister di bidang Sosiologi di Universitas Indonesia.
Kini, Sukardi juga dikenal aktif sebagai Wakil Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan, membidangi organisasi, kaderisasi, dan keanggotaan. Kiprahnya di dunia sosial keagamaan menjadi bukti bahwa akademisi tidak harus terkurung dalam menara gading, tetapi harus hadir di tengah masyarakat.
Rektor UNM, Prof. Dr. Karta Jayadi, dalam sambutannya menyebut pengukuhan enam guru besar hari itu sebagai pencapaian monumental yang bertepatan dengan Dies Natalis ke-64 UNM. “Ilmu tidak boleh disimpan di langit. Ia harus diturunkan ke bumi, dan hari ini kita menyaksikan bagaimana ilmu itu dibagikan,” katanya.
Dalam pesannya kepada generasi muda, Sukardi menekankan pentingnya pendidikan berkelanjutan. “Setelah S1, ambil S2. Lalu lanjutkan ke S3. Kalau bisa, ambil lagi S2 atau S3 lainnya. Semua ilmu yang dipelajari akan berguna. Saya sudah membuktikannya,” tegas penulis buku “Profesor Pembelajar” itu.
Sosok Sukardi Weda membuktikan bahwa keberhasilan akademik bukan semata hasil kecerdasan, tetapi buah dari ketekunan, kehausan akan ilmu, dan komitmen jangka panjang terhadap pendidikan. Di tengah tantangan zaman dan transformasi teknologi, ia menjadi teladan bahwa seorang guru besar tak hanya layak karena gelarnya, tetapi karena dedikasinya pada ilmu dan kemanusiaan.