Makassar – Menyikapi situasi yang memanas pasca kerusuhan yang terjadi di Makassar, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Sulawesi Selatan mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menahan diri, menghindari provokasi, serta menjaga kondusivitas dan perdamaian di wilayah Sulawesi Selatan.
Ketua DPW LDII Sulsel, Asdar Mattiro, S.Sos., M.I.Kom., menyampaikan keprihatinannya atas insiden yang menyebabkan pembakaran Kantor DPRD Kota Makassar pada Jumat malam (29/8/2025), yang mengakibatkan tiga korban jiwa dan pembakaran 67 unit kendaraan. Aksi massa juga merambah ke gedung DPRD Provinsi Sulsel yang turut dibakar.
“Kami mengimbau semua pihak, baik mahasiswa, aparat, maupun masyarakat luas, untuk bersama-sama menjaga kota yang kita cintai ini. Mari kita jaga Makassar agar kembali damai dan tenteram, sehingga roda kehidupan bisa berjalan normal kembali,” ujar Asdar.
Ia mengingatkan bahwa kerusuhan tidak hanya merusak fasilitas publik, namun juga berpotensi menghancurkan sendi-sendi kehidupan seperti ekonomi, pemerintahan, dan menghambat kegiatan ibadah. Asdar menegaskan pentingnya merujuk pada nilai-nilai kearifan lokal Bugis-Makassar, seperti sipakatau, sipakainge, dan sipakalebbi, sebagai panduan moral dalam menjaga harmoni sosial.
Kerusuhan yang terjadi di berbagai daerah, termasuk Jakarta, dipicu oleh meninggalnya seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan dalam aksi unjuk rasa pada Kamis malam (28/8/2025). Peristiwa ini memicu gelombang kemarahan dan protes dari berbagai kalangan.
Menanggapi insiden tersebut, Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso menyampaikan belasungkawa yang mendalam. “Kami mengucapkan duka cita atas meninggalnya saudara Affan Kurniawan. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keadilan,” ucapnya dalam acara Muswil LDII Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Sabtu (30/8/2025).
KH Chriswanto juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dari aparat keamanan dalam menangani unjuk rasa. Ia menyebut bahwa dalam situasi krisis, keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas utama.
“Tugas aparat memang berat, namun rakyat tidak boleh menjadi korban. Kami berharap aparat bisa mengawal demonstrasi dengan pendekatan persuasif dan menghindari kekerasan. Serahkan proses hukum kepada pihak berwenang. Jangan sampai masyarakat bertindak sendiri dan memperkeruh suasana,” ujarnya.
LDII turut mengingatkan para elit politik, pejabat negara, serta jajaran TNI dan Polri agar lebih peka terhadap suara rakyat dan memberikan teladan, bukan justru menunjukkan sikap arogan atau provokatif.
“Bangsa ini butuh keteladanan. Jangan beri tontonan yang menyakiti hati rakyat. Musyawarah dan dialog adalah jalan terbaik. Mari kita hindari provokasi dan tindakan anarkis yang hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu yang ingin menciptakan instabilitas,” tegas Chriswanto.
Ia juga menyerukan agar investigasi terhadap peristiwa kematian Affan dilakukan secara transparan dan adil. Menurutnya, penegakan hukum yang jujur dan terbuka dapat membantu meredakan ketegangan sosial.
“Keadilan harus ditegakkan. Jika ada aparat yang terlibat, harus diproses sesuai hukum. Namun masyarakat juga jangan bertindak di luar hukum. Mari kita sama-sama jaga ketertiban dan keutuhan bangsa,” imbuhnya.
KH Chriswanto menutup dengan pesan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa tahun 2025 merupakan masa krusial dalam mewujudkan harapan rakyat. Ia mendukung komitmen presiden untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan konstitusi dan mengedepankan kepentingan rakyat.
“Semua kebijakan harus berpihak pada rakyat, bukan hanya segelintir elite. Kami berharap pemerintahan ini benar-benar menjadi pelayan rakyat, menjaga demokrasi dan keadilan sosial,” pungkasnya.
LDII menyerukan kepada seluruh elemen bangsa, mari jaga persatuan, kedamaian, dan keadilan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.