Makassar – Dosen Universitas Muslim Maros yang juga Sekretaris DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Sulawesi Selatan, Dr Nashruddin SPd MPd menyampaikan kuliah umum dan tausiyah Ramadan di hadapan civitas akademika Institut Teknologi dan Bisnis Maritim (ITBM) Balik Diwa Makassar, Senin (9/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Pertemuan Lantai 2 Kampus ITBM Balik Diwa, Jalan Perintis Kemerdekaan 8 No. 8, Kota Makassar tersebut dirangkaikan dengan buka puasa bersama yang diikuti oleh para dosen serta civitas akademika kampus.

Acara ini turut dihadiri Rektor ITBM Balik Diwa Makassar Dr. Muh. Ikramullah Akmal, S.Sos., M.Si, bersama para dosen dan staf akademik yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk memperkuat nilai spiritual sekaligus mempererat silaturahmi di lingkungan perguruan tinggi.

Dalam tausiyahnya, Dr Nashruddin mengajak civitas akademika untuk memandang bulan Ramadan sebagai momentum pendidikan spiritual dan moral.

Menurutnya, setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap Ramadan. Ada yang menganggapnya sebagai beban atau “penjara”, tetapi ada pula yang menjadikannya sebagai madrasah atau sekolah kehidupan yang penuh pelajaran.

“Bagaimana kita memandang Ramadan. Apakah kita menganggapnya sebagai penjara, atau justru sebagai sekolah dan tempat pendidikan bagi diri kita,” ujarnya di hadapan para peserta.

Ia menjelaskan bahwa setiap amal kebaikan di bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. Sebaliknya, perbuatan buruk juga memiliki konsekuensi dosa yang lebih besar.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menjalani kehidupan selama Ramadan. “Orang yang pintar adalah orang yang selalu melakukan muhasabah diri dan menyiapkan bekal amal untuk kehidupan setelah mati. Momentum Ramadan ini harus kita manfaatkan untuk memperbanyak amal saleh,” jelas Nashruddin yang juga Dosen Universitas Muslim Maros.

Selain membahas nilai-nilai spiritual Ramadan, Nashruddin juga memberikan refleksi terhadap perjalanan ITBM Balik Diwa yang telah memasuki usia 25 tahun.

Menurutnya, usia tersebut merupakan fase kematangan sebuah institusi pendidikan. Oleh karena itu, seluruh civitas akademika diharapkan mampu menunjukkan kualitas dan kedewasaan akademik.

Ia menekankan pentingnya kedisiplinan dosen dalam menjalankan tugas pendidikan, termasuk dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Dosen harus tertib dalam mengajar dan mendidik, produktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah, serta aktif melakukan pengabdian kepada masyarakat,” ungkapnya.

Dalam kuliah umumnya, Nashruddin menegaskan bahwa pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter mahasiswa.

Menurutnya, pembiasaan akhlak yang baik harus dimulai dari para pendidik sebagai teladan bagi mahasiswa. “Pendidikan bukan sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga membiasakan akhlak yang baik kepada mahasiswa. Maka perubahan itu harus dimulai dari para dosen,” katanya.

Ia juga mendorong civitas akademika untuk terus berkarya, berinovasi, dan memanfaatkan potensi yang dimiliki kampus agar mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang kuat. “Kekuatan di usia 25 tahun adalah modal berharga untuk berkolaborasi sehingga kampus ini semakin berdampak bagi masyarakat,” tambahnya.

Sementara itu, Dosen ITBM Balik Diwa Tri Hidayani, S.Pi., M.Si menjelaskan bahwa kehadiran Sekretaris DPW LDII Sulsel dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari undangan resmi pihak kampus.

Menurutnya, Dr. Nashruddin diundang untuk menghadiri kegiatan buka puasa bersama sekaligus memberikan tausiyah dan doa bersama bagi civitas akademika ITBM Balik Diwa.

“Kehadiran beliau merupakan undangan dari pihak kampus dalam rangka buka puasa bersama serta memberikan tausiyah Ramadan dan doa bersama,” jelas Mesalina.

Ia menambahkan bahwa kegiatan seperti ini menjadi sarana mempererat hubungan antara lembaga dakwah dan institusi pendidikan, sekaligus membangun sinergi dalam penguatan nilai moral dan spiritual di lingkungan akademik.

Bagi ITBM Balik Diwa Makassar, kuliah umum yang dirangkaikan dengan tausiyah Ramadan ini tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan semata, tetapi juga ruang dialog intelektual yang mendorong integrasi antara ilmu pengetahuan, etika, dan spiritualitas.

Momentum buka puasa bersama yang menutup rangkaian acara juga dimanfaatkan sebagai ajang mempererat ukhuwah dan memperkuat kebersamaan di lingkungan civitas akademika kampus.

Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai kebersamaan, keilmuan, serta spiritualitas dapat terus tumbuh di lingkungan perguruan tinggi, sejalan dengan semangat Ramadan yang penuh keberkahan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *