Makassar – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII) Provinsi Sulawesi Selatan menggelar Pengajian Akbar bersamaan dengan donor darah pada Minggu (9/8/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Roudhotul Jannah, Kompleks Dr. Tajuddin Chalid, Jalan Berua Raya, Kota Makassar ini digelar dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua PMI Kota Makassar yang juga tokoh masyarakat Sulawesi Selatan, Dr. Syamsu Rizal MI, S.Sos., M.Si. (Daeng Ical), bersama Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan, H. Asdar Mattiro, S.Sos., M.I.Kom., serta ratusan warga LDII dan jemaah sekitar.
Dalam kesempatan tersebut, Daeng Ical memberikan perhatian serius mengenai tantangan umat Islam di era digital saat ini. Beliau mengingatkan para jemaah akan bahaya laten dari perang informasi dan serangan siber yang terstruktur.
“Perang umat itu sudah terjadi dan sudah ada di hadapan kita. Kita merasa hidup di negeri kerta raharja, tetapi di balik itu kita hidup di perang melawan kebatilan,” tegas Daeng Ical.
Ia membeberkan fakta mengenai dominasi asing dalam penguasaan ruang informasi global saat ini. “Per detik ini, keadaan kita di Indonesia sudah banyak satelit yang mengendalikan informasi. Melalui satellitemap.space, ini 99 persen dimiliki oleh asing yang tidak berprototipe. Informasi yang kita dapatkan melalui kendali mereka. Kita seimbang baru dari Starlink, belum satelit yang lain,” lanjutnya.
Menurut Daeng Ical, penguasaan sumber informasi oleh pihak luar ini berdampak sistemik pada pergeseran nilai moral di tengah masyarakat. Hal tabu kini mulai digiring agar dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. “Kalau mereka yang punya sumber informasi, semakin permisif membuat hal-hal yang tabu menjadi sebuah kebenaran. Contoh kaum boti, cakebai, kawekawe menjadi sebuah kewajaran,” kritiknya.
Lebih lanjut, ia memaparkan data mencengangkan mengenai masifnya serangan siber yang menargetkan karakter generasi muda, khususnya umat Islam. “Serangan siber per detik. Kalau otaknya kita rusak, maka tingkahnya, karakternya juga rusak. Ada 182 serangan per detik, dan serangan ini tidak terjadi alamiah. Ini dicreate (dibuat), disengaja, dibiayai, diongkosi, didorong oleh kelompok yang tidak senang dengan Islam,” urainya.
Daeng Ical juga mengutip data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) terkait ancaman disinformasi yang menjebak masyarakat, terutama para remaja. “Presentasinya menurut BSSN, 82 persen kita sadar yang ternyata itu adalah disinformasi. Kelihatannya benar, kelihatannya (nyata). Gen Z yang fomo tidak mau kalau tidak membagikan. Umat kita dalam pertarungan ideologi dunia, kita tidak sadar di tengah-tengah ideologi ini,” tambahnya.
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh warga LDII dan Gen Z untuk memperkuat ketahanan moral dan bijak dalam menyaring informasi dalam konteks bela negara. “Seimbangkan konsumsi informasi kita, jaga akhlak kita menjadi contoh bagi orang lain. Gen Z dalam konteks kenegaraan kita, Undang-Undang Ketahanan Siber harus mampu memutus serangan siber tersebut,” pungkas Daeng Ical.
Sementara itu, Ketua DPW LDII Sulsel, H. Asdar Mattiro, menyambut baik pesan kebangsaan tersebut dan berharap pengajian ini dapat membentengi karakter umat, khususnya generasi muda LDII, agar tidak mudah terpengaruh oleh arus disinformasi yang merusak moral bangsa.
