Maros — Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan, H. Asdar Mattiro, S.Sos., M.I.Kom., memberikan wawasan keorganisasian kepada peserta Cinta Alam Indonesia (CAI) yang diikuti para santri Pondok Pesantren Kutubussittah Babussalam, Tamalanrea, Makassar. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Villa Iluna, Gunung Tompo Bulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (5/9/2026) dalam suasana yang sejuk dan penuh kebersamaan.
Pondok Pesantren Kutubussittah Babussalam merupakan salah satu pondok pesantren binaan LDII Sulawesi Selatan. Kegiatan CAI menjadi salah satu momentum penting dalam membekali generasi muda dengan wawasan keagamaan, kepemimpinan, kebersamaan, kepedulian sosial, serta kemampuan untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
Dalam penyampaian materinya, H. Asdar Mattiro menekankan bahwa generasi muda merupakan aset sekaligus calon penerus kepemimpinan bangsa. Karena itu, pembinaan generasi tidak cukup hanya dengan memberikan pengetahuan agama, tetapi juga harus dibarengi dengan pembentukan karakter, kemandirian, kemampuan bekerja sama, serta kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Generasi muda harus dipersiapkan bukan hanya menjadi orang yang memiliki ilmu, tetapi juga memiliki akhlaqul karimah, mampu hidup mandiri, memiliki kepedulian sosial, serta mampu memberikan manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan komitmen LDII dalam membangun generasi profesional religius melalui pembinaan 29 Karakter Luhur. Di dalamnya terdapat Tri Sukses Generus, yakni alim-faqih, berakhlaqul karimah, dan mandiri, yang menjadi salah satu fondasi dalam membentuk generasi penerus yang berkualitas.
Asdar juga mengingatkan bahwa karakter tersebut tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan atau slogan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Para santri diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh selama mengikuti CAI dalam kehidupan di pesantren, keluarga, lingkungan pergaulan, maupun ketika terjun ke tengah masyarakat.
Organisasi sebagai Wadah Aktualisasi Generasi Muda
Dalam konteks tersebut, ia mengajak para santri untuk tidak ragu mengambil bagian dalam kegiatan organisasi. Menurutnya, organisasi dapat menjadi wadah untuk melatih kepemimpinan, komunikasi, tanggung jawab, disiplin, kebersamaan, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
“Organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi menjadi tempat belajar dan berlatih untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Di dalam organisasi kita belajar memimpin, dipimpin, bekerja sama, menghargai pendapat orang lain, serta belajar bertanggung jawab,” jelasnya.
Ia pun mengajak para peserta CAI untuk menjadikan LDII sebagai salah satu wadah pengabdian dan kontribusi dalam pembinaan generasi muda.
“Kalau kalian sudah mendapatkan ilmu dan pengalaman melalui CAI, mari kita aktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Mari bersama-sama mengambil bagian dalam membina generasi muda agar memiliki akhlaqul karimah dan menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” pesannya.
Menguatkan 6 Tabiat Luhur
Asdar juga mengingatkan pentingnya membangun 6 Tabiat Luhur sebagai karakter yang harus melekat dalam kehidupan generasi muda LDII, yaitu rukun, kompak, kerja sama yang baik, jujur, amanah, serta mujhid-muzhid atau bersungguh-sungguh dalam bekerja sekaligus hidup hemat.
Menurutnya, keenam nilai tersebut sangat relevan dengan kehidupan berorganisasi maupun kehidupan bermasyarakat. Kerukunan dan kekompakan akan melahirkan persatuan, kerja sama akan memudahkan tercapainya tujuan bersama, sementara kejujuran dan amanah menjadi modal utama membangun kepercayaan.
“Kalau generasi muda memiliki ilmu agama yang baik, akhlaqul karimah, kemandirian, serta dibekali tabiat luhur seperti rukun, kompak, jujur, amanah dan mampu bekerja sama, insyaallah mereka akan menjadi generasi yang kuat dan siap menghadapi tantangan zaman,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia berharap para santri tidak hanya menjadi penerima manfaat dari berbagai program pembinaan, tetapi ke depan mampu menjadi pelaku dan penggerak pembinaan generasi muda.
Sebab, menurutnya, keberhasilan pembinaan generasi hari ini akan menentukan kualitas generasi dan kepemimpinan bangsa di masa yang akan datang.
“Adik-adik semua jangan hanya berpikir bagaimana menjadi orang yang sukses untuk diri sendiri. Tetapi berpikirlah bagaimana kesuksesan itu bisa memberikan manfaat kepada orang lain. Jadilah generasi yang alim-faqih, berakhlaqul karimah, mandiri, profesional, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa dan negara,” pesannya.
Kegiatan CAI diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pembinaan berkelanjutan untuk melahirkan generasi penerus yang memiliki karakter luhur, semangat kepemimpinan, kepedulian sosial, serta kecintaan terhadap bangsa dan negara.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan di lingkungan keluarga, pondok pesantren, dan organisasi, LDII Sulawesi Selatan terus mendorong lahirnya generasi profesional religius yang tidak hanya memiliki kualitas pribadi, tetapi juga siap berkarya, mengabdi, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Dari CAI kita belajar, dari ilmu kita beramal, dari karakter kita berkarya, dan melalui organisasi kita berkontribusi untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
