Jakarta – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) secara resmi membuka Musyawarah Nasional (Munas) X di Grand Ballroom Minhaajurrosyidiin, Jakarta Timur, Selasa (7/4/2026). Forum lima tahunan ini menjadi titik penting bagi organisasi dalam mengevaluasi kinerja sekaligus merumuskan arah strategis menghadapi tantangan nasional dan global yang semakin kompleks.

Sebanyak 900 peserta hadir secara langsung dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) se-Indonesia, ditambah ribuan peserta daring dari berbagai daerah. Kehadiran tokoh nasional, pejabat pemerintah, hingga perwakilan negara sahabat memperkuat posisi Munas sebagai forum strategis lintas sektor.

Ketua Umum DPP LDII, Ir KH Chriswanto Santoso MSc, menegaskan bahwa Munas X bukan sekadar agenda organisasi, tetapi momentum konsolidasi besar dalam menghadapi dinamika zaman.

“Munas ini adalah bentuk evaluasi dan pertanggungjawaban kepengurusan 2021–2026, sekaligus merumuskan program kerja yang adaptif terhadap perubahan lingkungan strategis,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.

Respons terhadap Krisis Global

Dalam pidatonya, Chriswanto menyoroti eskalasi konflik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, yang dinilai berdampak luas terhadap stabilitas dunia. Lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga ancaman resesi menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi Indonesia.

“Kita harus memiliki daya tahan. Ketahanan nasional tidak hanya soal militer, tetapi juga energi, pangan, ekonomi, hingga budaya,” tegasnya.

Ia mencontohkan bagaimana sejumlah negara mulai melakukan penghematan ekstrem akibat krisis energi, sementara Indonesia masih mampu menjaga stabilitas harga. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak boleh membuat lengah.

“Ini tanggung jawab bersama. Setiap elemen, termasuk warga LDII, harus berkontribusi menjaga ketahanan bangsa, mulai dari hal sederhana seperti berhemat hingga inovasi di berbagai sektor,” ujarnya.

Sebagai bentuk kontribusi nyata, LDII mengusung delapan klaster pengabdian yang menjadi fokus utama organisasi. Salah satunya adalah pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter kebangsaan dan religius.

Chriswanto menekankan pentingnya membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter luhur. Salah satu pendekatan yang didorong adalah menghidupkan kembali budaya storytelling dalam keluarga untuk membentuk karakter anak sejak dini.

Selain itu, LDII juga menaruh perhatian pada sektor pendidikan berbasis pesantren terintegrasi, kesehatan keluarga untuk mencegah stunting, serta penguatan ekonomi syariah dan energi baru terbarukan seperti pemanfaatan panel surya di lingkungan organisasi.

Dalam bidang lingkungan, LDII bahkan mengembangkan konsep smart farming dan pengelolaan sampah mandiri di pondok pesantren sebagai bagian dari ketahanan pangan berbasis lingkungan.

Sinergi Nasional dan Kolaborasi Lintas Sektor

Pembukaan Munas X turut dihadiri berbagai tokoh nasional, diantaranya Menteri Haji dan Umrah Dr KH Mochamad Irfan Yusuf MSi, Ketua PP Muhammadiyah Dr KH Saad Ibrahim, perwakilan Kejaksaan Agung, hingga kepala daerah dan perwakilan kedutaan negara sahabat.

Dalam sambutannya, Menteri Haji dan Umrah menilai tema Munas X sangat relevan dengan tantangan global saat ini, terutama dalam konteks ketahanan pangan, energi, dan stabilitas nasional.

“Ketahanan nasional hanya bisa terwujud jika seluruh elemen bangsa bergerak bersama. Peran ormas seperti LDII sangat penting sebagai jembatan antara kebijakan pemerintah dan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa keberagaman Indonesia harus terus dijaga melalui nilai-nilai kebangsaan dan moderasi beragama sebagai fondasi utama persatuan.

Momentum Kontribusi untuk Indonesia dan Dunia

Lebih dari sekadar forum internal, Munas X LDII diharapkan menjadi momentum untuk memperluas kontribusi organisasi, tidak hanya bagi anggotanya, tetapi juga bagi masyarakat luas.

Dengan mengusung semangat “LDII untuk Bangsa”, organisasi ini berkomitmen untuk terus hadir sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan nasional, sekaligus berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia.

“Membangun Indonesia adalah kerja kolektif. Tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melibatkan seluruh elemen bangsa,” menjadi pesan kuat yang mengemuka dalam pembukaan Munas tersebut.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Munas X LDII 2026 resmi dibuka, menandai dimulainya proses penting dalam menentukan arah masa depan organisasi sekaligus kontribusinya bagi Indonesia di tengah dunia yang terus berubah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *