Enrekang – Komitmen membangun karakter dan mental spiritual tak hanya menyasar masyarakat umum. Para mubalig dari Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Enrekang secara rutin mengisi pengajian di Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Enrekang sebagai bentuk kontribusi nyata dalam pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid At-Taubah, lingkungan Rutan Kelas IIB Enrekang, Jalan Jenderal Sudirman No. 505, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Kamis (19/2/2026). Hadir dalam pengajian tersebut Ketua LDII Kabupaten Enrekang, Hermansyah SAg, bersama para mubalig DPD LDII Enrekang.
Kerja sama dakwah antara LDII Kabupaten Enrekang dan Rutan Enrekang telah terjalin sejak 2017. Selama hampir satu dekade, program ini berjalan konsisten sebagai bagian dari pembinaan mental dan spiritual warga binaan.
Pengajian dilaksanakan secara berkala, umumnya satu kali dalam sepekan, setiap Rabu atau Kamis. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus sarana pembelajaran agama bagi para WBP yang tengah menjalani masa pidana.
Hermansyah menegaskan bahwa dakwah adalah tanggung jawab moral yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Pembinaan spiritual menjadi pondasi penting dalam memperbaiki diri. Kami ingin warga binaan memiliki bekal agama yang kuat agar saat kembali ke masyarakat, mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Materi Tilawati hingga Praktik Sholat Jenazah
Materi pengajian tidak sebatas ceramah keagamaan. Para mubalig LDII memberikan pembelajaran bacaan Alquran metode Tilawati, praktik tata cara sholat jenazah, serta penguatan pemahaman dasar-dasar ibadah.
Pendekatan yang digunakan bersifat persuasif dan edukatif. Para WBP diajak memahami nilai-nilai kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, serta pentingnya memperbaiki akhlak.
Selain itu, penguatan mental spiritual dinilai sangat penting dalam proses pembinaan di dalam rutan. Dengan bekal pemahaman agama yang baik, warga binaan diharapkan memiliki kontrol diri yang lebih kuat dan tidak kembali terjerumus dalam tindak kriminal setelah bebas.
Pihak Rutan Kelas IIB Enrekang mengapresiasi LDII sebagai mitra strategis dalam mendukung program pembinaan dan asimilasi. Kolaborasi ini dinilai membantu peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) warga binaan, khususnya dalam aspek moral dan spiritual.
Program dakwah ini bahkan sempat diproyeksikan menjadi role model nasional bagi kerja sama pembinaan serupa di wilayah lain. Sinergi antara lembaga keagamaan dan institusi pemasyarakatan dianggap sebagai langkah efektif dalam menciptakan sistem pembinaan yang komprehensif.
Pembinaan mental spiritual menjadi salah satu pilar penting dalam sistem pemasyarakatan modern. Tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga pada rehabilitasi dan reintegrasi sosial.
Bagi LDII Enrekang, kehadiran di balik tembok rutan bukan sekadar agenda rutin, melainkan bagian dari misi dakwah yang inklusif. Mereka meyakini bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berubah.
Melalui pengajian yang berkelanjutan, LDII berharap para warga binaan mampu menjadikan masa pembinaan sebagai momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik, religius, dan produktif setelah kembali ke tengah masyarakat.
Dengan konsistensi sejak 2017, program ini menjadi bukti bahwa sinergi antara organisasi kemasyarakatan dan lembaga negara dapat melahirkan dampak nyata, membangun harapan baru dari balik jeruji.
