Luwu Timur – Dakwah pada era modern tidak hanya menuntut kemampuan menyampaikan ajaran agama, tetapi juga kesiapan menghadapi dinamika sosial serta kemandirian ekonomi. Berangkat dari semangat tersebut, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Luwu Timur menggelar Pembekalan Mubaligh (Da’i) yang memadukan penguatan kompetensi dakwah dengan edukasi kewirausahaan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Baitul A’la, Dusun Pabeta, Desa Manurung, Kecamatan Malili, Sabtu (1/8/2026), merupakan kolaborasi antara Bidang Pendidikan dan Dakwah serta Bidang Kemandirian DPD LDII Kabupaten Luwu Timur. Peserta berasal dari para mubaligh yang bertugas di berbagai Pimpinan Cabang (PC) LDII se-Kabupaten Luwu Timur.

Program tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas para da’i agar mampu menjalankan tugas dakwah secara profesional sekaligus memiliki bekal keterampilan yang dapat menunjang kemandirian ekonomi setelah menyelesaikan masa pengabdiannya.

Ketua DPD LDII Kabupaten Luwu Timur, H. Basri Kambatu, MM, mengatakan bahwa seorang da’i memiliki peran strategis sebagai pendidik, pembimbing, sekaligus teladan di tengah masyarakat. Karena itu, pembinaan tidak hanya difokuskan pada penguatan ilmu agama, tetapi juga pada kemampuan menghadapi tantangan kehidupan yang terus berkembang.

“Seorang da’i harus mampu menjadi agen perubahan di masyarakat. Selain memiliki pemahaman agama yang baik, mereka juga perlu memiliki keterampilan dan wawasan yang mendukung kemandirian sehingga dapat terus berkarya setelah menyelesaikan masa tugas dakwah,” ujarnya.

Dakwah dan Kemandirian Berjalan Beriringan

Koordinator Bidang Pendidikan dan Dakwah, Taufik Hidayat, didampingi Widiyanto, menjelaskan bahwa para mubaligh didorong untuk memanfaatkan masa pengabdian sebagai kesempatan belajar dari masyarakat, termasuk dari warga yang telah mengembangkan berbagai usaha produktif.

“Di samping menjalankan tugas sebagai mubaligh, kita juga bisa menyerap ilmu dari warga yang memiliki berbagai usaha. Harapannya, setelah purna tugas kita sudah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk berwirausaha sehingga mampu hidup mandiri,” kata Taufik.

Menurutnya, pengalaman tersebut akan menjadi modal berharga bagi para da’i dalam membangun usaha tanpa meninggalkan nilai-nilai dakwah yang telah dijalankan selama bertahun-tahun.

Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi mengenai strategi dakwah bil lisan, bil hal, dan bil qalam. Materi tersebut menekankan pentingnya dakwah yang tidak hanya disampaikan melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan sikap dan karya nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Para peserta juga dibekali kemampuan menghadapi dinamika sosial di lapangan, membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat, serta memperkuat pendekatan dakwah yang santun, moderat, dan solutif.

Belajar Wirausaha dari Pelaku UMKM

Sesi berikutnya menghadirkan narasumber dari kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan warga LDII. Mereka berbagi pengalaman mengenai pengelolaan usaha, membaca peluang pasar, mengelola keuangan sederhana, hingga langkah-langkah memulai usaha dari skala kecil.

Basri Kambatu menilai pendekatan tersebut menjadi salah satu bentuk pemberdayaan yang relevan dengan kebutuhan para mubaligh.

“Konsepnya sederhana. Sambil berdakwah, para da’i juga belajar. Ilmu yang diperoleh dari para pelaku usaha menjadi bekal yang sangat berharga. Insyaallah dakwah tetap berjalan, dan setelah selesai bertugas mereka telah memiliki keterampilan untuk mandiri secara ekonomi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penguatan aspek ekonomi tidak dimaksudkan menggeser fokus dakwah, melainkan menjadi penopang agar para mubaligh dapat terus berdedikasi tanpa bergantung pada pihak lain.

Mencetak Da’i yang Profesional dan Mandiri

Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga menjadi ruang membangun jejaring antara para da’i dengan pelaku usaha di Kabupaten Luwu Timur. Interaksi tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi, magang, maupun pendampingan usaha yang dapat dikembangkan setelah masa pengabdian.

Bagi DPD LDII Kabupaten Luwu Timur, pembekalan ini merupakan bagian dari strategi pembinaan sumber daya manusia yang menyeluruh. Organisasi ingin melahirkan mubaligh yang memiliki kompetensi keagamaan, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta kemandirian ekonomi.

Melalui sinergi antara Bidang Pendidikan dan Dakwah dengan Bidang Kemandirian, LDII Luwu Timur berharap lahir generasi da’i yang tidak hanya mampu menyampaikan nilai-nilai Islam dengan hikmah dan keteladanan, tetapi juga menjadi pribadi yang produktif, adaptif, serta mampu menginspirasi masyarakat melalui karya dan usaha yang dijalankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *